| FOKUS |
|
|
|
| Written by Qayuum Amri |
| Saturday, 05 September 2009 07:00 |
|
Menggenjot Produktivitas Sawit
Apalah artinya cap mentereng sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, manakala produktivitas CPO Indonesia masih terbilang rendah. Padahal, sudah sekitar 7 juta hektare lahan ditanami kelapa sawit. Dengan semakin terbatasnya lahan, maka upaya menggenjot produktivitas sawit sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Untuk menjadi pemain utama minyak sawit dunia, Indonesia tidak cukup hanya bisa mengandalkan kekuatan sumber daya lahan, agroklimat, dan tenaga kerja kasar, seperti selama ini. Kendati itu terkadang terasakan “cukup” karena terbukti belakangan negeri kita tampil sebagai produsen CPO terbesar di dunia.
Namun, untuk kepentingan jangka panjang, industri sawit nasional sudah harus mulai mengembangkan kekuatan “non-konvensional” sebagai tumpuhan utama. Kekuatan itu berupa “revolusi” pemuliaan tanaman dan modernisasi sistem budidaya. Dengan demikian, industri sawit nasional kelak tidak lagi bertumpu pada daya dukung lahan atau ekspansi lahan secara masif guna menggenjot produksi.
kan produksi dan luas lahan saja, tetapi perlu juga mendorong potensi produktivitas minyak sawitnya. Seandainya, tingkat produktivitas CPO nasional dapat dimaksimalkan tentu saja menjadi indikasi positif bahwasannya Indonesia tak hanya mengandalkan ekspansi lahan untuk meningkatkan produksi minyak sawit.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI), Soedjai Kartasasmita menyatakan, pelaku usaha maupun pemerintah belum dapat memaksimalkan produktivitas CPO yang sebenarnya akan mengurangi pandangan negatif dunia internasional kepada Indonesia. ”Selama ini Indonesia dinilai menyerobot hutan untuk kebun sawit baru. Maka itu perlu meningkatkan produktivitas CPO secara signifikan,” papar Soedjai kepada InfoSAWIT.
Ketua Kompartemen Komunikasi dan Publikasi Gapki, Eddy Martono, menduga bahwa beberapa tahun mendatang pembukaan areal baru akan semakin sulit akibat menguatnya tuduhan deforestasi bagi pelaku industri sawit. “Makanya, jalan keluar terbaik adalah meningkatkan produktivitas lahan dan outputnya,” kata dia.
Dirjen Perkebunan Deptan, Achmad Mangga Barani, menyatakan, dalam rencana strategis pembangunan perkebunan 2010-2014, peningkatan produktivitas menjadi sasaran utama, termasuk produktivitas kelapa sawit. “Hanya untuk sekarang, antara perluasan lahan dan produktivitas perlu diseimbangkan karena Indonesia masih punya potensi lahan yang besar,” kata dia.
Achmah mengakui produktivitas CPO nasional masih relatif rendah atau dibawah Malaysia. Tapi, perkembangan belakangan cukup menggembirakan karena produktivitas CPO terus meningkat. Dari data Ditjenbun, dalam periode 2005-2009 produktivitas minyak sawit perkebunan rakyat meningkat sebesar 1,8%, produktivitas.Selengkapnya baca majalah InfoSAWIT edisi maret 2010
|
| Last Updated on Wednesday, 10 March 2010 11:28 |

Berita Lintas
- Memperkuat Pasar CPO
- Ekspor CPO Meningkat
- Pelaku Sawit Minta Pemerintah Tinjau Ulang Pajak CPO
- Capex RM 178 Juta untuk Operasi Perkebunan Kulim Bhd
- IFC Susun Strategi di Sektor Sawit JAKARTA
- PT SMART Tbk Luncurkan Program Beasiswa dengan Jaminan Kerja JAKARTA
- India Perpanjang Program Minyak Makan Bersubsidi NEW DELHI
- Kerjasama IOI dan Pelita Holdings Berhenti KUALA LUMPUR
- Harga CPO Maret RM 2.500
- Stok Tinggi Tekan Harga CPO
- Awal Januari Ekspor CPO Malaysia Naik
- Malaysia Anjurkan Listrik dari TKKS
Kurs IDR
sumber: KlikBCA.com
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Facebook FanBox
Langganan dan Agen
| Majalah InfoSawit |
Harga CPO
Berita Foto
Statistics
Members : 8Content : 85
Web Links : 6
Content View Hits : 17299
Daftar Pengunjung






![]() | Today | 96 |
![]() | Yesterday | 133 |
![]() | This week | 482 |
![]() | Last week | 948 |
![]() | This month | 1341 |
![]() | Last month | 2457 |
![]() | All days | 14590 |



























