| Profil |
|
|
|
| Written by Qayuum Amri |
| Saturday, 14 February 2009 16:20 |
|
Joko Supriyono Mendaulat Sawit Sebagai Komoditi Andalan Tanpa perhatian khusus dari pemerintah, industri hulu kelapa sawit nyatanya tetap berdaya tahan dan dapat berkembang pesat seperti saat ini. Bahkan komoditi ini menjadi kontributor utama ekspor non-migas kepada negara.
Beberapa bulan belakangan ini, Joko Supriyono begitu giat membuat artikel yang berisi pembelaan terhadap masalah lingkungan dan sosial kelapa sawit. Salah satu artikel yang baru diselesaikan berjudul Palm Oil to Feed The World yang mengharapkan adanya kerjasama kuat antara pelaku usaha serta pemerintah guna menangkal isu negatif tersebut.
“Maunya artikel ini dapat dimuat di media cetak nasional,” kata Joko ketika ditemui di Sekretariat Gapki, Sudirman Park.
Sekjen Gapki periode 2009-2012 ini memang sangat disibukkan untuk menghadapi serangan LSM internasional kepada industri kelapa sawit nasional. Menurutnya, tudingan miring ini dari periode ke periode terus berubah yang berlangsung semenjak era 1980-an dan dimulai dengan isu minyak sawit berkolesterol tinggi. Lalu muncul masalah kebakaran hutan, orangutan, deforestasi dan paling teranyar terkait emisi gas rumah kaca.
“Apa yang mereka isukan itu tidak semuanya benar, jadi sasaran utama mereka industri kelapa sawit ini,” papar Joko.
Ia menjelaskan perkembangan kelapa sawit sangatlah pesat semenjak dekade 1990-an, sehingga dapat sejajar dengan komoditi lain. Bahkan minyak sawit dapat menyalip eksistensi minyak kedelai yang menjadi pemimpin pasar minyak nabati. Saat ini diperkirakan CPO memenuhi 27% kebutuhan minyak nabati dunia.
“Mungkin saja isu negatif yang selama ini digulirkan berkaitan dengan begitu pesatnya produksi minyak sawit. Ya bisa jadi semacam persaingan antar komoditi,” ungkap Joko.
Memang kenyataannya, produktivitas minyak sawit mencapai 4-10 kali ketimbang minyak nabati lainnya. Artinya, menurut Joko, lahan yang dibutuhkan kelapa sawit tak seluas komoditi lain. Sebagai upaya memenuhi kebutuhan minyak sawit sebanyak 234 juta ton pada 2020, kelapa sawit hanya memerlukan 3 juta ha, sunflower 9,2 juta ha dan kanola seluas 14,2 juta ha.
Bagi Indonesia, minyak sawit menempati posisi penting untuk memenuhi permintaan minyak goreng di dalam negeri. Joko yang juga menjabat Direktur CSR and External Affair PT Astra Agro Lestari Tbk, menilai minyak sawit dapat menjamin pemenuhan bahan makanan pokok masyarakat. Tak hanya pangan saja, menurutnya, komoditi ini berperan penting menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan seperti biodiesel.
Menjadi Komoditi Prioritas Semakin meningkatnya produksi kelapa sawit sejatinya dapat memberikan pengaruh yang sangat besar kepada negara ini. Apalagi komoditi ini setiap tahunnya berkontribusi besar kepada neraca perdagangan ekspor Indonesia. Atas dasar ini, wajar saja kelapa sawit dijadikan komoditi andalan oleh pemerintah Indonesia. Selanjutnya pada edisi Februari 2010 |
| Last Updated on Thursday, 11 February 2010 14:37 |

Kurs IDR
sumber: KlikBCA.com
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Facebook FanBox
Langganan dan Agen
| Majalah InfoSawit |
Harga CPO
Berita Foto
Statistics
Members : 8Content : 85
Web Links : 6
Content View Hits : 17312
Daftar Pengunjung






![]() | Today | 99 |
![]() | Yesterday | 133 |
![]() | This week | 485 |
![]() | Last week | 948 |
![]() | This month | 1344 |
![]() | Last month | 2457 |
![]() | All days | 14593 |


























