Home
Artikel PDF Print E-mail
Written by Muhammad Zubair,ST   
Monday, 16 February 2009 09:35
Stigmatisasi OER (Oil Extraction Rate)

Oleh: Muhammad Zubair, ST

        Perkembangan perkebunan kelapa sawit beserta pabrik pengolahannya di Indonesia sangat menggembirakan. Itu terbukti dari luasan pembukaan lahan yang akan digunakan sebagai kebun kelapa sawit semakin membengkak. Disamping usaha ekstensifikasi, proses intensifikasi perkebunan kelapa sawit, terutama kualitas benih semakin ditingkatkan. Dan hasilnya, negara kita, Indonesia, menjadi produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia, mengalahkan pesaingnya, Malaysia. Memang kita masih perlu belajar dari negeri Jiran tentang intensifikasi, tetapi dalam hal ekstensifikasi, luasan di negeri ini masih begitu luas.

Seiring dengan semakin luasnya areal perkebunan kelapa sawit, tentu diiringi dengan pembangunan pabrik kelapa sawit, karena tidak mungkin mengekspor ke pasar internasional dalam bentuk raw material. Pabrik Kelapa Sawit (PKS) adalah gerbang untuk memproduksi berbagai macam produk derivatif dari CPO. Pabrik Kelapa Sawit juga disebut sebagai unit ekstraksi CPO dan kernel. Keberhasilan operasional pabrik kelapa sawit bisa dipengaruhi dari beberapa aspek, diantaranya :

1.      Kualitas dari TBS yang dikirim estate ke pabrik.

2.      Kualitas minyak sawit yaitu FFA, DOBI, Dirt, dan Moisture.

3.      Kuantitas produksi yaitu CPO dan kernel.

4.      Kapasitas pabrik tercapai.

Untuk kuantitas produksi disana dikenal istilah OER dan KER, yaitu OER (oil extraction rate) atau yang biasa disebut rendemen minyak sawit adalah perbandingan produksi CPO dengan TBS yang diolah, sedangkan KER (kernel extraction rate) atau rendemen inti sawit/kernel adalah perbandingan produksi kernel dengan TBS olah. Itu merupakan salah satu indikator keberhasilan operasional pabrik kelapa sawit.

 

 

Selama ini perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang agribisnis kelapa sawit berpedoman terhadap OER. Pertanyaannya adalah apakah dengan OER yang tinggi maka minyak sawit (CPO) yang dihasilkan semakin banyak? Kalau kita mau mengkaji lebih dalam lagi bahwa yang menjadi target perusahaan adalah jumlah CPO bukan OER.

Padahal sebagai pembagi, berat TBS olah itu bisa berupa air, kerikil, pasir, dan lain-lain. Sedangkan jumlah CPO yang diproduksi itu berhubungan dengan kegiatan operasional pabrik, yaitu yang menyangkut oil losses.

Dalam buku Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, Dr. Ir. Ponten M. Naibaho, memberikan grafik mengenai pembentukan minyak dalam buah. Minyak sawit dan minyak inti sawit mulai terbentuk sesudah 100 hari setelah penyerbukan dan berhenti setelah 180 hari atau setelah dalam buah minyak sudah jenuh.

Dari grafik, kita bisa mengetahui bahwa kadar minyak pada umur 180 hari-lah yang paling optimal. Dan ini yang dilakukan oleh banyak perusahaan dalam usia pemanenan karena mengacu pada penelitian tersebut. Kemudian beliau juga memberikan grafik mengenai kadar keasaman minyak sawit sampai dengan umur 180 hari.

 

Dari grafik juga diperoleh bahwa pada umur 180 hari yaitu usia optimum dalam hal kadar minyak yang ada pada buah, didapatkan kadar keasamannya sudah meningkat.

 

Di sini, penulis menganjurkan untuk usia panen adalah 150 hari. Kemudian kita akan membuat simulasi perhitungan, dengan catatan kloen buah yang digunakan adalah sama (apple to apple). Dari segi benefit, manakah yang menguntungkan, apakah usia panen 180 hari ataukah pada usia 150 hari per tahunnya?

Data dari grafik :

1.      Usia panen 180 hari

a.      Kadar minyak 26,3%

b.      Keasaman 0,5%

2.      Usia panen 150 hari

a.      Kadar minyak 24%

b.      Keasaman 0,06%

Kemudian kita membuat data-data sebagai berikut :

1.      Hari kerja/tahun

2.      Siklus kematangan buah/tahun

3.      Produksi TBS/ha/bulan

4.      Produksi TBS/ha/hari

5.      Jumlah hari kerja/bulan

6.      Produksi CPO/ha/hari

7.      Produksi CPO/ha/tahun

 

Dari tabel komparasi didapatkan hasil produksi CPO usia panen 150 hari lebih banyak dibandingkan usia panen 180 hari. Bahkan dari tingkat keasaman usia panen 150 hari juga lebih baik. Hal ini akan memberikan keuntungan ganda kepada perusahaan yaitu produksi CPO yang lebih banyak dan harga premium dari CPO itu sendiri karena mempunyai kualitas FFA (keasaman) yang rendah, dinamakan CPO super. Harga CPO super lebih tinggi dibandingkan harga CPO dengan kualitas biasa. Kedua hal itu akan menambah kepada perusahaan dalam sisi benefit. Bahkan itu belum termasuk perolehan/produksi kernel yang tentu meningkat pula.

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan koreksi terhadap keberadaan OER, yang selama ini telah menjadi stigma sebagai indikator keberhasilan suatu PKS. Mungkin dengan perlakuan tersebut, kita dapat lebih mengoptimalisasi produksi CPO Indonesia, tetapi perlu diadakan suatu kajian atau penelitian, apakah dengan perlakuan itu akan berpengaruh terhadap fisiologi tanaman kelapa sawit atau tidak.

 

 

Last Updated on Thursday, 11 February 2010 15:51
 


Kurs IDR

10-Mar-2010 / 08:08 WIB
Kurs Jual Beli
USD 9280.00 9130.00
SGD 6641.25 6511.25
HKD 1196.85 1175.55
CHF 8645.95 8482.95
GBP 13925.60 13645.60
AUD 8497.55 8323.55
JPY 103.64 101.04
SEK 1307.45 1275.15
DKK 1709.75 1663.45
CAD 9052.30 8860.30
EUR 12635.15 12403.15
SAR 2484.15 2425.15
sumber: KlikBCA.com

Facebook FanBox

InfoSAWIT Edisi Cetak

Langganan dan Agen

Majalah InfoSawit

Berita Foto

Statistics

Members : 8
Content : 85
Web Links : 6
Content View Hits : 17295

Daftar Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday93
mod_vvisit_counterYesterday133
mod_vvisit_counterThis week479
mod_vvisit_counterLast week948
mod_vvisit_counterThis month1338
mod_vvisit_counterLast month2457
mod_vvisit_counterAll days14587

Event