Home Cermin
ACFTA, Ancaman atau Peluang PDF Print E-mail
Written by Qayuum Amri   
Wednesday, 14 January 2009 20:58

Awal tahun 2010 Indonesia resmi masuk dalam perjanjian perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN plus Cina - ACFTA, kondisi diibaratkan terjun dari pesawat tanpa payung cadangan. Contohnya, ada beberapa asosiasi industri yang bahkan merasa dipaksa terjun tanpa diberikan payung seperti asosiasi industri tekstil dan produk tekstil, asosiasi baja, elektronik dan beberapa yang lain.

 

Untungnya hingga saat ini neraca perdagangan kita dengan Cina masih surplus dan mungkin juga tetap surplus dimasa mendatang karena kita masih memiliki banyak sumber daya alam, termasuk pertambangan dan hasil perkebunan yang melimpah.  Tetapi sampai kapan kekayaan alam tersebut bisa bertahan sebagai komoditas  yang kompetitif dan sustainable?

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa minyak sawit adalah kontributor devisa terbesar saat ini  dengan pasar utama Cina dan India, diberlakukannya ketentuan free trade agreement dengan Cina dikuatirkan CPO dan PKO dari Indonesia akan mengalir lebih deras ke pasar Cina.

 

Tanpa harus mendistorsi rumusan ekonomi pasar bebas rasanya kita masih memerlukan aturan domestic market obligation (DMO) yang tegas dan gamblang untuk mencegah fluktuasi ekstrim harga minyak makan dalam negeri. DMO diberlakukan bukan hanya untuk mencegah melonjaknya harga minyak goreng dalam negeri tetapi sekaligus melindungi kebutuhan bahan baku industri oleokimia di Indonesia.

 

Dengan DMO bukan berarti industri minyak makan dan oleokimia terkesan ‘kolokan’ dan manja tetapi sebagai kompensasi atas mahalnya transportasi, minim infrastruktur serta tingginya cost of money, karena suku bunga bank yang tinggi (bunga pinjaman bank hanya 4% per tahun).

 

Dibandingkan negeri jiran Malaysia, industri turunan minyak sawit kurang berkembang karena beberapa faktor seperti yang sudah disebut diatas, padahal industri turunan CPO ini dapat memberikan kontribusi positif terutama bila terintegrasi dengan industri perkebunannya, karena dapat digunakan sebagai sarana hedging pada saat pasar modal yang sedang bergejolak.

 

Keluhan pengusaha minyak sawit dan turunannya sudah sering kali diutarakan pada setiap kesempatan seperti pelabuhan yang congested dimana membuat kapal-kapal besar segan singgah dimana yang sering congested justru pelabuhan di sentra-sentra minyak sawit seperti di Dumai-Riau dan Belawan- Sumatra Utara. 

 

Sejak 2006 kita memproklamirkan diri sebagai penghasil kelapa sawit nomor satu dunia dengan produksi minyak sawit diatas 18 juta ton/tahun, dan produksi CPO tersebut masih akan terus meningkat sekitar 4–6% per tahun entah sampai kapan.  Sehingga mau tidak mau industri turunan CPO harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri minyak makanan dan oleokimia.

 

Momen ACFTA dapat digunakan sebagai momen ‘siap perang’ bukan hanya industri minyak sawit saja tetapi menyangkut juga industri lain untuk lebih meningkatkan daya kompetisi agar survive, sukur-sukur bisa jadi market leader terutama komoditas yang memang memiliki sumber bahan baku dan keuntungan lainnya seperti kelapa sawit.

Last Updated on Tuesday, 02 February 2010 10:12
 


InfoSAWIT Edisi Cetak

Langganan dan Agen

Majalah InfoSawit

Berita Foto

Statistics

Members : 8
Content : 85
Web Links : 6
Content View Hits : 17304

Daftar Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday97
mod_vvisit_counterYesterday133
mod_vvisit_counterThis week483
mod_vvisit_counterLast week948
mod_vvisit_counterThis month1342
mod_vvisit_counterLast month2457
mod_vvisit_counterAll days14591

Event